Selasa, 30 Juni 2015

Ketika Rupiah Menjadi Sampah...


Sore-sore, ketika lagi asyik nyapuin halaman (rajin MODE:ON) saya melihat uang logam Rp. 100 yang ikutan tersapu. Duh.. siapa sih yang buang-buang uang disini? Mentang-mentang duit seratus nilainya kecil. Paling enggak kan bisa untuk bayar pengamen atau pengemis yang biasa mampir ke rumah, pikir saya.

Yakin deh, hampir semua orang indonesia pernah mengalami kejadian yang mirip-mirip diatas. Dimana uang seratus rupiah hampir enggak digunakan lagi. Buktinya, coba kamu intip dompet temen kamu (kalo diijinin), rata-rata isinya adalah uang kertas, uang receh paling ada Rp.500 atau Rp. 1.000, jarang ada yang nyimpan uang seratus perak.

Kalo ditanya alasannya klasik, yaitu bikin dompet tambah berat atau bawa uang seratus perak itu enggak efisien. Tapi bener enggak sih?

Minggu, 28 Juni 2015

Seperti Pelangi




Sore itu hujan datang lagi. Membasuh sudut kering kota kami. Anggrek lunglai tertimpa air. Sejenak, petrichor merebak memenuhi udara.

Aku masih meringkuk di kasur kamar. Tak peduli atraksi hebat yang terjadi diluar. Rerantingan menggores pelan kaca jendela. Seakan merayuku untuk mengintip apa yang terjadi disana. Tanganku membuka kaca jendela itu dan melihat samar.

Dan seketika aku pun terhenyak...

Selasa, 23 Juni 2015

Kementerian Sosial Media



Internet itu udah jadi semacam candu buat sebagian besar rakyat Indonesia. Enggak dipungkiri sih, karena segala yang kita butuhkan ada disana. Yang pengen belanja, disediain toko online. Yang lagi suntuk, disediain game online. Yang lagi jomblo, disediain pacar online.

Entah karena jumlah tuna-asmara di Indonesia yang sudah semakin membludak, sosial media adalah media yang paling banyak di akses di Indonesia. Dimana 79,7 % dari total populasi di Indonesia adalah pengguna sosial media aktif! Pengguna sosial media, yang akrab disapa netizen, terkenal sangat kritis pada kejadian-kejadian viral yang sedang hot, punya rasa solidaritas yang tinggi, dan rata-rata punya jempol berukuran besar! :D

Biar bagaimanapun, efek sosial media lebih banyak buruknya daripada baiknya. Efek baiknya, sosial media memberikan akses informasi tanpa batas, memperluas pergaulan, dan sebagai sarana promosi yang murah dan efisien. Sedangkan sisi buruknya, sosial media membuka peluang tindak kejahatan yang lebih luas dan berbahaya.

Lantas, sudahkah netizen memanfaatkan sosial media dengan baik? Hmm... ternyata belum. Masih banyak oknum netizen yang memanfaatkan sosial media sebagai media baru untuk tindak kejahatan, seperti penipuan, penculikan, pornografi, bullying, pencitraan, prostitusi, penyebaran hoax, bahkan pemerasan. Banyak korban netizen yang dirugikan karena adanya tindak kejahatan dunia sosial media ini. Perlindungan hukum untuk melindungi netizen pun juga masih minim.

Minggu, 07 Juni 2015

Pengorbanan Menuju Persatuan



Dari 193 negara didunia, mungkin hanya ada satu negara yang mampu mempertahankan persatuan yang utuh sebagai sebuah negara merdeka, yaitu Indonesia. Gimana enggak? Indonesia adalah negara majemuk dengan suku bangsa, bahasa, dan lima agama berbeda yang dianut penduduknya, tapi semua itu tak lantas membuat negara ini penuh dengan perang saudara dan konflik berkepanjangan yang bisa mencabik-cabik persatuan.

Jika kita iseng membandingkan dengan negara lain, betapa mereka sangat sulit untuk mempersatukan budaya dalam satu negara. Malah, beberapa negara harus terpecah belah karena perang saudara. Misalnya pembubaran negara Yugoslavia karena perbedaan ras dan budaya. Lalu ada perang sipil karena diskriminasi ras dan agama di Sudan yang akhirnya memisahkan negara Sudan dan Sudan Selatan, dan yang paling hangat adalah lepasnya Crimea dari Ukraina yang lebih memilih untuk bergabung ke Rusia.

Negara lain seakan iri melihat persatuan di Indonesia yang tetap terjalin harmonis ditengah gejolak dan pertikaian ras, agama, dan politik di dunia. Mereka juga berpikir keheranan kenapa Indonesia yang notabene adalah negara dengan banyak budaya dan agama yang berbeda, tetapi tetap mampu hidup berdampingan satu sama lain.



Jumat, 29 Mei 2015

Mesin Waktu Bernama Lagu



Saat mendengarkan sebuah lagu, terjadi suatu proses electrical-chemical di dalam otak kita bagian kanan. Efeknya, masalah yang selama ini membelenggu sejenak mencair, mood yang semula drop seakan meningkat, sehingga kita tak sadar akan terhipnotis dengan alunannya yang menggelayut dalam jiwa dan raga. Dan ketika kita mengeraskan volume suaranya maka tetangga sebelah rumah akan berteriak lantang "Wooy! Matiin musik lo! Berisiiiikk!"

Terlepas dari masalah tetangga tadi, musik memiliki sifat khas yang unik. Musik itu kekal. Punya dimensi ruang dan waktu yang tak terbatas. Misalnya, jika seseorang fans berat sebuah lagu, dia pasti selamanya akan ingat lirik-nya, nada-nya, bahkan tempat pertama kali lagu itu didengarkan.

Sabtu, 23 Mei 2015

Jangan Jadi Kupu-kupu



Loh...?? Emang manusia bisa ya berevolusi dan berubah jadi kupu-kupu? Kirain bisa berevolusi jadi monyet doang? Muehehehe...

Tenang broh... bukan gitu maksud saya. Kupu-kupu disini sebenarnya adalah salah satu peng-kategorian mahasiswa mahasiswi Indonesia berdasarkan gerak geriknya selama ngampus. Kategori/tipe ini terbentuk akibat lingkungan dan suasana kampus yang sedemikian rupa sehingga secara enggak sadar mereka bakal terkotak-kotak dalam beberapa kelompok. Tapi sebelum kita membahasnya lebih jauh, bersiap nih gaes karena beberapa kategori dibawah bakal menusuk relung ketek para mahasiswa-mahasiswa kita tercinta.

Jadi makin penasaran nih, apa sih maksudnya? Yuk kita bahas satu-satu...