Kemarin kemarin, ada sebuah “tren” di postingan instagram yang bikin para jomblo dari sabang sampai marauke teriak teriak mewek. 

Mereka protes...
mereka ngeles...
mereka pajang foto topless... 


Lagi-lagi tentang cinta. Demen banget sih admin bahas tentang ini? Padahal kan statusnya sekarang masih jomblo? Muehehehe... tak apalah. Biarpun jomblo kan belum tentu laku. But, eniwei, cinta itu bisa bikin hati setiap insan di dunia berbunga-bunga hlo. Enggak percaya? Dulu ane juga sering jatuh cinta. Indah banget! Makan tempe aja rasanya kayak makan sandwich!
 

Contoh gambaran simple-nya gini nih...

Sejak pacaran sama dia, hidupku jadi beda...
Sejak pacaran sama dia, hidupku jadi berwarna...
Sejak pacaran sama dia, aku jadi suka buang air lewat jendela...


Selamat Hari Pahlawan semua... Telat ya? Hehehe. Tapi enggak apa-apa deh. Kali ini saya enggak membahas tentang pahlawan yang kita kenal lewat buku sejarah. Tapi tentang para pahlawan terlupakan yang justru tanpa kita sadari ada di sekitar kita.



Pahlawan terlupakan adalah pahlawan masa kini yang mempunyai sifat-sifat kepahlawanan yang mirip dengan pahlawan kemerdekaan indonesia. Mereka rela berkorban demi kepentingan orang lain, pantang menyerah, berjuang sampai titik darah penghabisan, ikhlas menolong siapa saja. Yap, itulah kemampuan super mereka yang belum tentu dimiliki orang lain.


Nah, berikut ini adalah para pahlawan masa kini yang sering kita lupakan keberadaannya. mereka mampu hidup melawan arus ditengah keegoisan kita sebagai manusia. Tapi mereka justru rela mengabdikan hidupnya untuk kebaikan orang lain untuk sekarang dan yang akan datang.





Pemulung


Kalo kita suka seenaknya buang sampah sembarang, pemulung yang mengambilnya. Kalo truk sampah enggak datang karena gajinya ditahan pemerintah, pemulung yang mengambilnya. Tapi, tanpa kita dan dia sadari, pekerjaan mereka ini berdampak besar pada lingkungan lho. enggak percaya?

Coba kita lihat sekilas, setiap hari mereka memungut dan memilah sampah, mulai dari botol plastik, kertas, botol kaca, besi dan sebagainya. Sebagian besar sampah ini tidak akan pernah terurai oleh bakteri pengurai dan menjadi tanah walaupun sudah dibakar, tetapi itu akan tetap menjadi sampah sampai kapanpun. Sampah ini yang dikumpulkan para pemulung untuk dijual dan didaur ulang lagi.

Kalau kita melihat dari seberapa banyak jasa para pemulung ini, mungkin kita sendiri tidak bisa menghitung sebarapa banyak sudah jasa yang mereka sudah lakukan untuk kita dengan memungut sampah – sampah dan menjualnya ke pabrik daur ulang untuk di daur ulang, tapi banyak juga orang yang masih meremehkan pekerjaan mereka dan parahnya menganggap pekerjaan mereka hina, padahal kita berhutang banyak pada mereka.


Guru di Daerah Terpencil


Enggak ada yang bisa membantah kalau guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa. Tapi lebih dari itu, ada guru yang punya kekuatan super agar ilmu yang diberikan kepada anak yang nun jauh disana. Yap, guru didaerah terpencil.

Guru ini rela dibayar minim, mengajar dengan fasilitas seadanya, dan harus menghadapi anak pedalaman yang biasanya “keras”. Kebanyakan dari mereka tidak terlalu mengharap pamrih karena ini adalah pilihan hidup. Yang terpenting bagi mereka adalah mencerdaskan anak anak Indonesia hingga kepelosok pelosok negeri agar punya masa depan yang lebih baik. So, its the real hero for Indonesia education. Saluut...


Petani


Setiap kali kita makan, kepikiran enggak siapa yang bikin tu beras lalu dirubah jadi nasi? Yap petani. Petani menyediakan sumber makanan utama bagi 250 juta penduduk Indonesia. enggak heran kalo petani dijuluki “pahlawan pangan”. Petani juga pernah lho mengharumkan nama bangsa di pentas internasional.

Ceritanya, 29 tahun lalu Indonesia mendapat penghargaan dari FAO (Organisasi Pangan Dunia) sebagai negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangan rakyatnya sendiri. Penghargaan ini sontak membuat dunia kaget karena sebelumnya Indonesia dikenal sebagai importir beras terbesar. Namun, lewat swasembada beras tahun 1984 kita mampu mengatasi masalah pangan itu. Dan dibalik itu semua petanilah aktor dibelakang keberhasilan Indonesia. TOP!

Tapi itu dulu, sekarang petani dianggap sebagai pekerjaan yang kuno dan ketinggalan zaman. Petani seakan tak mampu menghadapi laju-nya pembangunan. Petani juga terkesan hanya dijadikan “alat” untuk memberi makan orang kota. Enggak heran sekarang pemerintah kembali ke hoby yang sama, importir beras terbesar didunia.


Tentara di Perbatasan Negara


Tujuan dari terbentuknya tentara adalah menjaga kedaulatan negara. Tapi, hanya sedikit dari tentara ini yang pantas disebut the real hero karena pengabdiannya yang tulus pada negara. Mereka ada di perbatasan negara kita.

Ketika tentara muda lebih memilih bekerja dikota karena gaji yang tinggi, para tentara pahlawan ini malah bekerja di perbatasan. Mereka hidup dengan fasilitas minim, namun harus tetap bertahan demi menjaga pertahanan di wilayah pinggir NKRI. Ada beberapa wilayah perbatasan yang sangat vital untuk dijaga, yakni perbatasan Timor Leste, Kepulauan Sangihe, ujung utara Sulawesi, dan Pulau Natuna di Kepulauan Riau.

Rata-rata, para prajurit ini mengalami keterbatasan pasokan makanan dan sulitnya transportasi. Medan yang terjal dan tidak adanya masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan juga menjadi tantangan tersendiri. Belum lagi jika adanya serangan dari negara lain, merekalah garda terdepan untuk menghadapinya. Wow... tetap semangat, pak!


TKI


TKI adalah sebutan bagi warga negara Indonesia yang bekerja di luar negeri. Baik yang bekerja di sektor formal, profesional maupun non-formal, tapi sebagian besar dari mereka bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Tak jarang dari mereka mendapat siksaan dan pulang hanya tinggal nama. Tapi dibalik itu semua mereka adalah “pahlawan devisa” yang dianggap penting bagi pemerintah. Kenapa?

Ketika para TKI/w mengirimkan uang ke tanah air dalam bentuk uang asing, terjadi sumbangan kepada devisa negara. Karena para TKI ini harus “membeli” Rupiah dengan menggunakan mata uang di mana mereka bekerja. Semakin banyaknya mata uang asing yang ditukarkan maka semakin banyak juga devisa yang diterima pemerintah Indonesia. Pantaslah mereka disebut pahlawan devisa  karena setiap tetes keringat mereka begitu berarti untuk menambah devisa dan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi negara kita.

Seniman


Ketika kita lebih mencintai kebudayaan asing yang kita anggap keren dan modern, seniman hadir sebagai penyelamat kebudayaan lokal Indonesia. Mereka berani menentang arus modernisasi demi mempertahankan warisan negeri ini. Sehingga “Pahlawan Kebudayaan” sangat pantas kita sematkan kepada mereka.

Yap bener banget! Sebutan itu memang pantas bagi mereka yang sudah mempertahankan salah satu warisan berharga negeri kita tercinta. Tidak hanya mempertahankan, para seniman sejati ini juga terus mencari cara agar budaya seni Indonesia dapat diterima oleh kaum muda indonesia, agar mereka memiliki penerus. Penerus yang akan meneruskan perjuangannya melestarikan budaya seni indonesia yang rentan akan kepunahan.


Nah, merekalah para pahlawan yang terlupakan oleh kita. Mereka dianggap pahlawan karena sudah mengabdikan diri kepada orang lain dan negera. Melalui artikel ini, saya juga ingin menyampaikan bahwa profesi yang terkadang kita anggap hina, justru merupakan profesi yang terhormat karena manfaat yang besar bagi orang lain. Pekerjaan dan pengorbanan mereka sangat perlu untuk diapresiasi agar pahlawan tanpa gelar ini bisa terus memberikan kontribusi yang besar bagi bangsa kita.


"Bangsa yang besar merupakan bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya. Pahlawan bukan hanya yang berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia saja, tetapi juga para tokoh yang telah berjasa dalam bidang kebudayaan, pendidikan, pembangunan, dan lainnya” --- Boediono, 2014.






Selama menyandang gelar jomblo, ada sebagian remaja yang kerjaanya ngeluuh mulu pengen punya pacar. Seolah-olah hidupnya penuh kesialan karena predikat jomblo. Malam minggu sendiri ngeluh, makan sendirian, ngeluh, pergi kemana-mana sendirian ngeluh, ditanya malaikat di liang kubur sendirian, ngeluh juga.

Selain karena rasa iri ngeliat enaknya orang lain pacaran, itu mungkin karena suatu stigma. Dimana orang yang menyandang status jomblo dianggap hina. Saking enggak maunya dianggap hina, ya mati-matian deh nyari pacar.

Previous PostPosting Lama Beranda