Kamis, 21 Mei 2015

Pemangsa yang Dimangsa



Kalo ngomongin ikan hiu, yang terbayang adalah seekor ikan buas, galak, dan enggak bersahabat. Yap, hiu memang rajanya lautan. Penghuni dasar laut pasti segen kalo berpapasan dengan predator ini. Tapi toh, cuma di lautan doang. Karena ada makhluk berakal yang berani menghabisi hiu-hiu ini tanpa berpri-kehewanan. Siapa lagi kalau bukan manusia. Kejamnya lagi, manusia membantai mereka hanya untuk dijadikan sup anget!

Dijadikan sup anget? Gimana ceritanya?

Jadi ikan hiu diburu karena siripnya yang kemudian bakal dijadiin sup. Konon, sup sirip hiu berkhasiat meningkatkan vitalitas, meningkatkan kualitas kulit, dan beragam manfaat kesehatan lainnya. Karena kelangkaannya, harga satu mangkuk sup hiu di restoran mewah bisa sampai US$ 100 atau 13 juta rupiah! Dengan harganya yang selangit itu nelayan nelayan Indonesia jadi tergoda untuk memburunya. Waduuh...




Penangkapan hiu di Lampulo, Aceh

Eksploitasi besar-besaran ikan ini membuat populasi hiu berkurang drastis dalam beberapa dekade terakhir. Diperkirakan lebih dari 100 juta hiu dibunuh tiap tahunnya demi uang dan keegoisan semata.

Padahal hiu penting banget dalam keseimbangan ekosistem laut. Kepunahan hiu (moga-moga enggak terjadi!) dipercaya bakal merusak ekosistem laut di muka bumi.

Skema sederhana rantai makanan laut
                P.s : Klik gambar untuk ukuran yang lebih gede


Masih ingat pelajaran biologi tentang rantai makanan? Disitu digambarkan skema makan-dimakan oleh organisme di muka bumi. Hiu berada di puncak rantai makanan di laut. Jika posisi puncak tidak ada maka populasi hewan dibawahnya bakal membludak dan ekosistem di laut bakal jadi kacau.

Nah, ketika terjadi kekacauan ekosistem ini kita juga bakal terkena imbasnya. Bisa-bisa kita enggak pernah lagi menikmati seafood yang lezat. Enggak ada lagi cumi goreng tepung yang nikmat. Enggak ada lagi ikan sarden untuk para anak-anak kost yang kehabisan uang di tanggal tua. Apa enggak sedih tuh?

Ironis banget yah? Dari statusnya yang dulu pemangsa sekarang malah dimangsa. Segalak-galak dan seseram-seramnya hiu kan mereka makhluk hidup juga. Makhluk hidup yang punya hak untuk hidup. Bukannya dibantai untuk mengisi perut orang-orang kaya disana. Kalo suatu saat semua hiu punah, anak cucu kita dapat apaan? Dapat kotorannya doang?

Nah, gimana nih? Masih cuek dengan keberlangsungan hiu di laut kita?


Sebagai manusia yang (masih) punya hati nurani, kita pastinya ingin keindahan alam ini bisa dirasakan anak cucu kita nantinya. Peduli dengan makhluk hidup bernama hiu adalah salah satunya.

Sebagai individu dan konsumen, kita punya kekuatan untuk menciptakan perubahan. Banyak kok caranya. Misalnya dengan tidak mengkonsumsi daging hiu maupun produk-produk olahannya, menghindari restoran yang menyediakan menu olahan hiu, sampai berpartisipasi dalam kampanye penyelamatan hiu, baik secara online maupun secara nyata.

Kalo kebetulan abah kamu nelayan yang tak sengaja jalanya terjaring ikan hiu, segera suruh deh lepas kembali hiu itu, karena hiu bukanlah ikan yang harus dibasmi dan dikonsumsi, melainkan hewan yang harus dijaga keberlangsungannya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar